
Kol Mi……………
Pagi-pagi saat Ayam kesayangan Aril udah menyalak….eh, salah maksudnya berkokok mulailah ritual dan grasa-grusu anak KKN tapi hal ini hanya berlaku di 2 kamar cewek yang dihuni oleh 5 orang gadis aneh yang merasa dirinya manis dan tidak berlaku untuk kamar cowok yang hanya di tutupi sebuah gorden di depan TV itu, mereka tetap molor. Kamarku yang menampung 3 gadis membutuhkan waktu sekitar 10-20 menit berguling-guling sebelum benar-benar terbangun karena ketokan pintu yang berulang kali di lakukan Dilla.
“Ya….ampun dilla, nggak bisa biarin orang melemaskan seluruh otot dulu yach” teriakku yang kesulitan bangkit dari tidur karena kaki Uti yang ndut bin bondeng itu tengah nangkring di atas pinggangku. Anak itu emang punya kebiasaan meluk-meluk dan nitip-nitip kaki di sembarang tempat.
“Ih…….kapan mo bangunnya kalo modelnya kayak gitu” ucap Dilla melihat keadaan ranjang yang masih tidak karuan dengan 2 orang gadis yang telentang tidak jelas bersama sarung masing-masing.
“Hehehe…….kalo udah saatnya bangun, juga bakalan bangun sendiri kaleee.”
“Kalo nungguin itu terjadi, bisa-bisa seluruh dagangan di pasar habis di serbu ayam-ayam yang belum di beri makan sebutir jagung pun oleh peternaknya.”
“Ih….”
“cepetan, udah siang nih pasar ntar tutup. Mau makan apa ntar siang??”
“Iya bu!!!” jawabku sambil mengambil jilbab hitam yang tergantung d samping lemari dan segera membasuh wajahku dengan air yang beraroma besi berkarat.
Air di desa ini memang seperti itu, berwarna sedikit kekuningan dan beraroma besi berkarat. Namun kami harus terbiasa karena sampai 2 bulan ke depan, desa ini akan menjadi rumah kami.
Aku dan Dilla yang memang telah di lantik menjadi petugas pemasaran a.k.a piket pasar kemudian mengarungi udara pagi di desa Pincara yang masih sangat sejuk dengan keadaan belum mandi. Laju motor sedikit ku pelankan karena udara yang masih cukup dingin dan masih sanggup menembus lapisan jaket KKN kami. Setelah mencari bahan makanan untuk 3-4 hari mendatang serta ikan yang tentunya dapat di konsumsi oleh semua mahluk Pincara ini, aku dan Dilla segera menuju toko kelontong di sekitar pasar untuk membeli biskuit dan roti tawar sebagai cemilan kami di pagi ini. Sebagai petugas piket pasar tetap, kami sudah punya langganan sayur dan ikan yang di jamin bisa memberikan potongan harga yang mengagumkan. Hem….itulah gunanya jaket KKN kami….hehehehe
Aku sangat mengagumi kemampuan Dilla menawar barang-barang di pasar, wah…..luar biasa. Kami juga sudah menghapal jadwal pasar di luar kepala. Mau tahu: Senin dan Jumat, pasarnya ada di depan rumah, jadi motor Ilman yang jadi langganan kendaraan kami ke pasar bisa istirahat pada dua hari itu. Rabu-Sabtu, pasarnya ada di desa sebelah lumayan jauh dari posko kami, dan kamis-minggu, pasarnya ada di ibukota kecamatan.
Bahan makanan yang kami beli biasanya tidak terlalu berlainan setiap minggunya, hal ini karena 8 orang yang ditakdirkan hidup seposko ini tidak memiliki hobi dan kesukaan yang sama akhirnya harus membeli bahan makanan yang umum-umum saja di konsumsi semua orang. Terlebih lagi untuk masalah lauk, Uti kan cuma menyukai ikan yang dia kenali dan ikan itu harus ikan laut bukan ikan sungai, ribet. Aneh…..memang, nggak tau tuh anak kenapa, tapi dia hanya mau makan lauk yang sudah terbiasa di lidahnya yang lain mah lewat dan jangan harap mendapat lirikan dari gadis tembem ini. Dalam masalah sayur juga berpengaruh, aku dan Dilla pernah membeli buah kelor untuk di masak dan heh……….3 orang penghuni posko Pincara sama sekali tidak menyentuhnya. Akhirnya kami menyerah dan hanya membeli sayur bayam, kangkung, sawi, dan daun kacang untuk lauk hanya dua jenis ikan cakalang dan banding, karena Bubun tidak suka makan cumi, hua…..
Memang mesti sabar menghadapi aneka selera makanan anak-anak yang hampir membuatku bingung setiap kali harus ke pasar. Namun ritual ke pasar pernah terhenti sejenak, saat Kak Jum a.k.a bubun pulang kampung. Kampungnya yang terletak di daerah dengan suhu cukup dingin membuat sayuran banyak yang tumbuh disana, saat ia kembali ke posko 1 karung sayuran di bawanya ikut serta sebagai persediaan logistik kami beberapa hari selanjutnya.
Jenis sayuran yang paling banyak dibawanya adalah kol. Hampir setiap hari dalam seminggu menu sayuran selalu berupa kol, entah ditumis, masak kuah, atau di tumis bersama mi. hal ini menyebabkan menu makanan kami monoton.
Suatu hari kami kembali memasak menu andalan itu, karena tumpukan kol masih banyak di tempat persediaan kami.
Saat jadwal makan siang tiba,
“Wah….kol lagi, kol lagi…” ucap Daddy
Kami yang notabene adalah koki makan siang itu sontak berujar, terima saja nasibmu kalau tidak mau ya…siap-siap aja beli promag di warung depan biar perutnya tidak rewel.
“Jum, lain kali kalo pulang kamu jangan bawa kol lagi yach, bosan.”
“Ih…siapa juga yang berecana untuk pulang. Mestinya ente bersyukur masih bisa makan tanpa mengeluarkan uang minggu ini, jadi kita bisa menghemat, kali aja nanti ada keperluan mendadak.”
“Tapi bosan juga Jum, masa kol tumis mulu sich.”
Kami kontan berteriak, “Ya udah Dad, tumis aja kolnya sama mi, biar beda.”
Gedubrak!!!
“ Yah, itu mah sama aja, tetep kol juga.”
“Kalo gitu, TERIMA SAJA NASIBMU.”



